Four Alasan Anak Suka Membentak Saat Dinasihati Orangtua

Namun karena kondisi emosi Ibu sedang tidak stabil, hal sepele dapat memicu amarah. Alhasil, Ibu akan mengeluarkan kata-kata tidak enak dan akhirnya menyesal. Untuk itulah, tarik nafas sedalam mungkin jika emosi sedang memuncak. Saat kamu melihat anak berbuat hal yang menyebalkan, kamu mungkin jadi emosi dan akhirnya berteriak atau membentak. Kamu bisa menghindari emosi ini dengan berbagai cara untuk membuat dirimu menjadi rileks.

Berbicara dengan anak tanpa membentak

Dengan memahami semua ini, akan membantu kita mengatasi dan mengendalikan kemarahan kita. Dengan memahami bahwa kemarahan orangtua bisa ‘melukai’ anak secara psikologis, kita jadi lebih bisa mengendalikan diri. Ketika anak remaja melakukan kesalahan, hindari melakukan kekerasan fisik maupun kekerasan emosional.

Ajar mereka untuk selalu terbuka tentang keadaannya dalam segala hal, baik itu menyangkut perasaannya, atau kendala-kendala yang dihadapinya. Jangan membiasakan anak Anda tertutup tentang perasaan mereka terhadap Anda. Dengan cara ini, Anda sudah mendidik anak Anda untuk bertindak jujur dalam kehidupannya.

Mereka mengomel dan membentak saat melihat anak menghabiskan waktu dengan ponsel pintar. Ya, rasa takut bisa membuat orangtua spontan berteriak atau bahkan memukul anak. Jumlahnya tidak sedikit, bisa lebih dari 1 milyar sel otak anak yang akan rusak? Walaupun dalam kondisi emosi yang lagi tinggi, namun usahakan jangan memarahi anak dengan membentaknya. Penting bagi Ibu untuk membuat komitmen pada diri sendiri untuk menguasai cara menahan emosi pada anak.

Seperti “Kau bisa mengatasi ini” atau “Lakukan dengan cara yang baik”. Contoh, Anda meninggikan suara saat memberitahu makan malam siap, atau meminta anak menurunkan volume televisi. Cobalah untuk bisa lebih tenang di kala anak membuat keributan kecil.

Menyita ponsel anak remaja selama sepekan jauh lebih sulit dilakukan dibandingkan menyimpan ponselnya selama satu jam. Konsekuensi membantu setiap anak bertanggung jawab atas tindakannya. Atasi segera perilaku kurang baik dan alihkan perhatian anak ke perilaku yang baik. Hal ini wajar saat anak lelah, lapar, takut, atau sedang belajar mandiri. Lagipula, mereka pun jenuh karena harus terus-menerus berada di dalam rumah.

Anak akan tumbuh sebagai orang yang lebih agresif secara fisik maupun verbal. Mengutip Child Development Journal, anak yang terlalu sering dibentak orangtua bisa membuat anak melakukan hal yang sama seperti orangtua lakukan saat ia masih kecil. Merasa tidak dihargai dan tidak disayang sering menjadi akibat dari anak yang terlalu sering dibentak oleh orangtua. Daripada memarahinya dengan nada bicara yang keras, cobalah untuk berdiskusi dengan anak saat ia melakukan kesalahan. Butuh peraturan agar bisa menerapkan cara mendisiplinkan anak guna mengajarinya konsekuensi dari perilaku baik atau buruk yang dilakukannya. Anak yang keras kepala, entah itu anak perempuan atau laki-laki, cenderung menjadi sangat sensitif dan tidak dapat dibujuk oleh orang-orang di sekitarnya.

Jika dalam perkembangannya, anak terlihat menyimpang maka sebagai pendidik dan orang tua sewajarnya untuk menegur. Jika teguran yang diberikan tidak diindahkan dan anak mengulangi kembali perbuatannya maka sewajarnya diberlakukan sikap apatis pada anak tersebut. Orang dan benda disekelilingnya tentu ikut membangun karakter pada dirinya.

Dengan pengajar yang berpengamalan menangani anak-anak dan materi yang ramah terhadap anak-anak, proses belajar jadi lebih seru dan tidak membosankan. Untuk anak-anak usia three tahun ke atas, Anda bisa membiarkan mereka menentukan durasi time-out mereka sendiri. Misalnya Anda bisa mengatakan, “Renungkan kesalahanmu dan kembali waktu kamu sudah merasa siap.” Strategi ini bisa membantu anak Anda mengatur emosi sendiri. Time-out adalah metode untuk mendisiplinkan anak dengan memberi waktu bagi anak untuk memikirkan kesalahan mereka. Metode ini bisa dilakukan jika ada aturan spesifik yang dilanggar.

Buzz