Dampak Negatif Jika Suka Membentak Anak

Akibatnya, orang lain akan merasa sakit hati, ketakutan, atau marah, dan menyebabkan hubungan kita dan dia menjadi rusak. Jadi keluarkan kemarahan Anda jika memang dibutuhkan, tapi segera tenangkan diri Anda dan pikirkan apa “pesan” dari kemarahan Anda sebelum Anda mulai berbicara dengan orang tersebut. Kita sering berpikir bahwa bila kita mengekspresikan kemarahan pada orang lain membuktikan bahwa kita benar dan orang itu salah, dan hal ini biasanya malah akan membuat kemarahan kita memuncak. Yang harus kita lakukan sebenarnya adalah mencari tahu dengan cara yang konstruktif, apa yang sebenarnya membuat kita marah sehingga masalah tersebut bisa diselesaikan, dan kemarahan kita pun mereda.

Guru bisa membimbing mereka agar tidak terjerumus ke hal-hal negatif yang dapat merugikan dirinya sendiri atau orang lain. Kerap kali jika komunikasinya buntu, menghadapi orangtua yang selalu merasa benar hanya akan berakhir dengan pertengkaran. Padahal, perdebatan dengan bumbu emosi hanya akan membuat masing-masing pihak semakin mempertahankan pendapatnya tanpa mengabaikan masukan orang lain.

Meskipun anak melakukan kesalahan deadly di depan umum, pastikan kita bisa menjaga emosi dan bersikap setenang mungkin. Karena memarahinya di depan umum akan membuat anak semakin tertekan. Bahkan, jika orang tua sering melakukan hal demikian, dapat membunuh karakter anak secara perlahan. Jadi, hindari kebiasaan membentak anak jika tidak ingin hubungan Anda dan buah hati menjadi renggang. Jika orangtua tidak ingin anak memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang buruk, lebih baik hentikan kebiasaan membentak saat anak membuat salah.

Jika hal ini dilakukan berulang-ulang dapat berpengaruh negatif pada perkembangan psikologis anak. Anda bisa membaca informasi seputar parenting, berdiskusi dengan rekan yang berpengalaman atau bisa juga berkonsultasi dengan psikolog untuk membekali diri dengan pengetahuan. Beruntung, hukuman fisik tak lagi populer, bahkan dikecam dalam pengasuhan zaman now. Namun, bentakan sering kali menjadi refleks ketika mendapati Si Kecil tak bertindak sesuai arahan.

Hukuman yang mendidik akan lebih baik daripada sanksi keras yang melukai fisik. Si Kecil mungkin akan merengek, meskipun demikian Bunda harus bersikap konsisten karena perbuatannya berucap kata kasar atau kotor tersebut tidak bisa ditolerir di lingkungan manapun. Hargai Si Kecil dengan memberi pujian jika ia tidak mengulanginya.

Sehingga peran orang tua dalam mengasuh anak akan tidak diperhatikan. Menurut penelitian National Institutes of Health, berteriak atau membentak anak dapat membuat anak-anak lebih agresif, secara fisik dan verbal. Hal ini membuat takut anak-anak dan membuat mereka merasa tidak aman. Orang tua yang bersikap terlalu keras sehingga membentak anak akan tidak disukai dengan anak-anaknya dan rasa ingin menjauhi. Padahal orang tua seharusnya menjadi figur dan teladan bagi anak-anak. Fimela.com, Jakarta Setiap orangtua memiliki cara mendidik anak sendiri-sendiri.

Berbicara dengan anak tanpa membentak

Seberapa sering Anda menggunakan cara membentak dalam berkomunikasi dengan pasangan atau keluarga. Dikutip dari Suite101, dijelaskan perbedaan mendasar dari berbicara dan membentak. Walau sama-sama disebut sebagai ‘cara berkomunikasi’, namun membentak dan berbicara memiliki hasil yang sangat berbeda. Beri tahu Si Kecil apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan dengan tenang namun tegas.

Cara mengatasi anak nakal selanjutnya adalah dengan mengajarkannya hal yang baik. Orangtua yang mengharapkan anaknya tumbuh menjadi pribadi baik haruslah mencontohkannya dengan melakukan kebaikan pula. Karena cara mendidik anak yang paling efektif adalah dengan memberinya teladan lewat perilaku sehari-hari, bukan melalui nasehat-nasehat panjang yang mungkin membuat anak merasa jenuh mendengarnya. Oleh karena itu, orangtua harus berhati-hati dalam bersikap karena apabila masih suka membentak, anak akan belajar untuk berbicara kasar pada orang lain. Membentak anak akan memberikan dampak psikologis di masa depannya.

Buzz